Hati-Hati Di jalan: Sebuah Asa Untuk Kembali Jumpa


Timeline kehidupan seseorang bisa jadi berbeda-beda, namun kebanyakan dari mereka akan memulainya di pagi hari. Dari mulai menyiapkan diri sendiri, membereskan rumah hingga menyiapkan kebutuhan anggota keluarga. Sampai tiba waktunya semua orang menjalani aktivitasnya masing-masing dengan ucapan berisi doa, “Hati-hati di jalan.”


Dulu, di telinga saya, kalimat itu terdengar seperti sebuah formalitas semata. Ah, nanti juga bertemu lagi, pikir saya enteng. Seiring berjalannya waktu yang mendewasakan diri, membuat saya akhirnya mampu memaknai nilai dari kalimat itu. 


Hati-hati di jalan, bukanlah sebatas prosedur wajib yang dikatakan setiap melepas anggota keluarga saat keluar dari rumah untuk beraktivitas maupun sebatas bepergian. Ada perpisahan raga di sana. Dalam waktu lebih dari 8 jam:

  • Ada anak yang ditinggal sementara oleh Ayah-Ibunya untuk bekerja

  • Ada suami-istri yang bahu membahu berupaya menggapai mimpi bersama namun di ruang yang berbeda

  • Ada orang tua yang melepas anak kesayangan demi menggapai mimpi mereka. 


Rupanya, dalam kalimat itu, diam-diam terselip doa serta harapan yang dalam nan tulus supaya kita semua masih diberikan kesempatan untuk memiliki pertemuan selanjutnya. 



Antara Perjuangan & Rasa Khawatir


Diam-diam kita semua merasakan takut, cemas dan khawatir atas keselamatan anggota keluarga. Namun, hidup terkadang tidak memberi banyak pilihan. Berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, atau bertahan hidup seadanya? Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing. Sebagian dari mereka memilih untuk berjuang agar mendapat hidup yang lebih layak bagi keluarga tercinta. Maka, ‘hati-hati di jalan’ menjadi satu-satunya ucapan dan doa yang memberikan energi serta ketenangan dalam melepas perjalanan keluarga setiap harinya. 


Baca Juga:



Ketika Akhir Hari Menjadi Awal Sebuah Tragedi



Tapi, kita tidak benar-benar mengetahui kemana hidup akan mengalir. Seperti tanggal 27 April lalu. Siapa yang akan mengira bahwa KRL Commuter Line yang diharapkan membawa penumpangnya kembali ke hangat pelukan keluarga, ternyata justru menghantarkan sebagian dari mereka ke haribaan Sang Pencipta? 


Mereka pergi meninggalkan keluarga tercinta yang sedang menanti kabar dan kedatangan mereka. Ada cerita-cerita yang siap disampaikan, ada rencana yang menanti direalisasikan dan ada hangat pelukan yang dirindukan. Malam itu menjadi hari yang panjang dan dingin bagi mereka semua… 


Sungguh, perpisahan paling menyakitkan adalah saat kita tidak bisa lagi menggenggam tangannya, memeluk tubuhnya, mendengar suaranya dan melihat raganya. Berpisah dalam bentuk ruang, waktu dan dimensi. Rindu hanya dapat dihaturkan melalui doa dan pusara menjadi tempat untuk mencurahkan segala cerita yang tak lagi dapat dipendam. 


Pesan Sederhana


Perpisahan ini menjadi hal yang sangat mahal dari sebuah ketidaktertiban pengendara dalam melintasi jalur kereta api. Memicu sebuah kecelakaan dahsyat yang akhirnya memakan 16 korban meninggal dunia dan 79 orang lainnya terluka. 

Harapan saya sederhana: mari jadi pengguna jalan yang tidak egois. 


Berhati-hati dan tertib aturan. Di setiap ruas jalan yang kita lewati ada anak, istri, suami, adik, kakak dan orang tua dari seseorang yang sedang menanti kehadirannya di rumah.


Dan, mari biasakan mengucap ‘Hati-hati di jalan’ dan memberi kabar ‘Sudah sampai, nih’ kepada anggota keluarga yang kamu tinggalkan. Karena dari doa itu dan kabar singkatmu menjadi sumber ketenangan bagi mereka…






Komentar