Langsung ke konten utama

Chef & My Fridge: Korea Selatan dan Promosi Budaya Dalam Senyap

 

Aku lagi suka nonton acara variety show dari Korea Selatan di Netflix yang berjudul Chef & My Fridge. Acara ini selalu mengundang pesohor di Korea Selatan sebagai tamu. Tim produksi akan membawa kulkas pribadi milik pesohor tersebut, lalu para Chef yang tidak kalah hebat dari tamunya, memasak hidangan sesuai pesanan tamu menggunakan berbagai bahan yang tersedia di dalam kulkas itu. Kunci serunya acara ini adalah adanya keterbatasan waktu memasak dan menyajikan hidangan yaitu hanya 15 menit. Bayangin aja, Chef harus memasak dengan bahan yang tidak mereka ketahui sebelumnya dalam waktu 15 menit, ditonton langsung oleh sesama Chef, tamu acara serta diiringi komentar dari para Host yang kadang justru bikin konsentrasi mereka buyar. Perjalanan para Chef buat masak juga tidak selalu mulus. Selalu ada kesalahan dan kegagalan. Tapi, hebatnya mereka selalu selesai menyelesaikan dan menyajikan masakannya sesuai waktu yang ditentukan. 


Salah satu episode di Chef & My Fridge yang paling buat aku berkesan adalah ketika mereka mengundang Presiden Korea Selatan beserta istrinya. Dalam episode tersebut, Beliau menyampaikan kurang lebih bahwa Korea Selatan merupakan negara dengan sumber daya terbatas. Lalu, bagaimana caranya agar tetap dikenal oleh mancanegara? Jawabannya, melalui budaya dan makanan khas Korea Selatan

Saat mendengar pernyataan itu, hatiku benar-benar tersentuh. Mungkin, mereka memang memiliki keterbatasan, tetapi semangat untuk menjadi negara yang maju dengan kualitas hidup yang baik, sangat tinggi. Selain itu, mereka sangat percaya diri dan bangga terhadap budaya serta makanan lokalnya. Cara mereka membungkus promosi pun terasa kreatif, tenang dan senyap. Banyak orang mungkin tidak sadar kalau sedang ‘diracuni’ oleh budaya dari negara lain, karena semua terasa seperti sedang menikmati hiburan yang menyenangkan, bukan sebuah promosi yang memaksa. 

Coba kita ingat kembali, bagaimana drama Korea akan selalu menampilkan adegan makan Topokki, Kimchi, Ramyun, Kimbab, Jajangmyeon dan aneka makanan khas Korea Selatan lainnya, dengan gaya makan khas: lahap, terburu-buru, porsi besar, seolah sedang sangat kelaparan. Tapi efeknya apa? Penonton jadi penasaran dengan rasa makanan tersebut. Imbasnya, dalam beberapa tahun ini kita bisa lihat restoran korea menjamur di mana-di mana, termasuk Indonesia.Kini, di supermarket pun banyak makanan Korea Selatan yang dijual, bahkan hingga ada bahan asli lokalnya. 

Selain itu, di dalam negeri, mereka juga mengembangkan teknologi pangan hingga memiliki sapi korea yang harga jual tinggi, namun tetap laris di kalangan warga lokal maupun wisatawan. Mereka tetap maju dengan memaksimalkan apa yang dimiliki. Jika ada hal yang terasa asing bagi orang luar korea, mereka tidak memaksakan perubahan besar demi diterima, melainkan hanya melakukan sedikit penyesuaian lalu mengangkat sisi uniknya dan otentiknya. 

Padahal, menurutku sebagai seseorang yang terlahir dan besar di Indonesia, setelah mencoba beberapa masakan Korea Selatan, dari berbagai aspek rasa masakan Indonesia masih lebih unggul. Namun gaungnya masih berada di bawah budaya dan masakan Korea Selatan. 

Dari pandanganku, promosi budaya Korea Selatan tidak akan sehebat dan semasif sekarang tanpa andil pemerintah. Andaikan pendekatan serupa juga diterapkan oleh Indonesia, bukan tidak mungkin kita melangkah lebih maju dari sekarang. 

Karena, potensinya besar sekali. Lihatlah dari hal sederhana saja, Indonesia bisa jadi penghasil meme di media sosial, sumber virality dan membuat banyak orang yang penasaran dengan masakan asli indonesia. 

Sayangnya, konsentrasi pemerintah belum benar-benar mengarah ke sana. Bahan lokal masih kalah dengan bahan import, proyek food estate tidak digarap dengan serius, belum bisa swasembada pangan padahal memiliki lahan hijau yang banyak. Modalnya sudah melimpah ruah, tapi eksekusinya belum serius. Aku sangat berharap, suatu saat nanti budaya dan makanan khas Indonesia mendunia. 

Menurut kalian, apa masakan Indonesia yang potensial menjadi viral dan terkenal?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rabu di Rumah: Cuti Mendadak, Masak Ramen, Senang-Senang 💕

Rabu pagi dimulai dengan sedikit huru-hara. Sebab, setelah siap berangkat kerja, saya baru membaca pesan jika pengasuhnya anak-anak tidak bisa datang karena harus menjaga orang tuanya yang sedang sakit. Sementara jadwal suami juga berubah: yang seharusnya libur malah menjadi masuk.  Kami diskusi sebentar, lalu diambil keputusan bahwa yang bisa mengajukan cuti jalur dadakan cuma saya. Jujur, suasana hatiku sempat nggak baik saat itu.  Bukan karena tidak suka di rumah bersama anak-anak. Namun, karena beberapa pekerjaan jadi agak terbengkalai karena hal ini dan kami juga ada rencana mudik ke Lhokseumawe bulan Juli nanti. Jadi, seharusnya saya menghemat cuti, ya hehehe.  Biar sebal di awal, kalau sudah cuti harus menikmati dong. Maka dari itu, saya ajak suami belanja karena ada resep yang telah lama ingin kami coba, yaitu ramen dengan gaya Tenkaippin. Katanya sih, Tenkaippin merupakan sebuah chain restoran ramen terkenal di Jepang. Nah, suami penasaran dengan resepnya Chef Hi...

Tidak Terasa 2025, Sudah Sampai ke Bulan Mei

Sepulang kerja, sembari mengendarai motor pikiran saya melayang ke mana-mana (ini contoh yang tidak baik, jangan ditiru, ya). Salah satu yang terlintas adalah… kok cepat banget ya, tiba-tiba sudah bulan Mei 2025?  Padahal, rasanya baru saja melewati malam tahun baru yang penuh kebingungan. Waktu itu, anak kedua saya ternyata alergi laktosa sehingga harus buru-buru ganti susu formula yang bebas laktosa. Diantara keriuhan kondisi tersebut, saya tetap melaksanakan ritual rutin setiap ganti tahun, yaitu membuat resolusi. Ya… walau kadang berjalan mulus, kadang juga nggak. Resolusi di tahun 2025 versi saya adalah lebih aktif di dunia digital. Itulah sebabnya, sejak tahun 2024 saya pasang pondasi, mulai dari membuat konsep ulang untuk Instagram, Blog hingga Threads. Harapannya, semua jejak digital saya bisa lebih rapi dan nggak hilang begitu saja seperti blog sebelumnya.  Tapi… ya namanya menjadi ibu bekerja dengan dua anak jarak dekat, sangat menantang sekali jika ditambah dengan m...

Kembali Bekerja Setelah Cuti Melahirkan: Persiapan yang Perlu Ibu Lakukan

Kembali Bekerja Setelah Cuti Melahirkan: Persiapan yang Perlu Ibu Lakukan Setelah 3 bulan menikmati waktu bersama si kecil, saatnya bagi para ibu bekerja untuk kembali ke kantor. Pasti ada rasa senang dan sedih ya, antara ingin kembali beraktivitas dan berat hati meninggalkan anak di rumah. Apalagi kalau pas balik kerja, kantor lagi sibuk banget, kayak lagi ngerjain laporan, audit, atau proyek besar. Di postingan kali ini, aku mau sharing tentang apa aja sih yg perlu kita siapkan sebelum kembali bertempur dengan perkantoran duniawi: Persiapkan diri fisik dan mental Penting banget loh bu, untuk menyiapkan diri baik secara fisik maupun mental sebelum kembali bekerja. Biasanya, seharian bareng sama anak sejak bangun tidur. Mulai dari memandikan, menyusui, serta bermain. Anak nangis, kita ada di dekatnya, bisa lihat dia ngapain  aja seharian. Fokusnya ada disekitar rumah, suami dan anak. Setelah kembali bekerja, rutinitas tersebut akan berubah 180 derajat. Ada waktu sekitar 8 j...